Bibit Replanting Kelapa Sawit Dituding Asalan

  • Whatsapp
TUNJUK: Ketua DPD APKASINDO BS menunjukkan kemasan bibit PPKS BP540 asli yang seharusnya digunakan dalam program replanting

KOTA MANNA – Djohardin yang mengaku sebagai Ketua DPD Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) BS, mempertanyakan bibit kelapa sawit yang dibagikan dalam program replanting (peremajaan) kelapa sawit yang dilaksanakan di BS. Dia menyebut bibit kelapa sawit yang seharusnya bibit jenis PPKS (Pusat Penelitian Kelapa Sawit) BP540, diganti dengan bibit biasa tanpa label atau asalan.

Djohardin juga mempertanyakan kebijakan replanting yang menyasar kebun karet. Padahal program replanting seharusnya untuk mengganti tanaman kelapa sawit yang tidak produktif. “Kami dari APKASINDO menyesalkan adanya permainan dalam program replanting kelapa sawit ini. Informasinya program ini memang tengah diselidiki tim Polda Bengkulu,” ujar Djohardin yang mendatangi Graha Pena Rasel, Minggu (27/6) siang.

Bacaan Lainnya

Djohardin mengaku sudah membandingkan langsung bibit yang dibagikan pada program replanting dengan bibit PPKS yang dimiliki APKASINDO. Dia menyatakan sangat meragukan keaslian dan kualitas bibit tersebut. “Kami memiliki bibit PPKS yang asli. Setelah kami sandingkan dengan bibit bantuan program replanting, bentuknya sangat jauh beda. Bagaimana hasil kebun mau bagus kalau bibitnya tidak jelas,” tegas Djohardin sambil menunjukkan kemasan bibit PPKAS yang diklaimnya versi asli.

Terkait replanting yang menyasar kebun karet, Djohardin mengaku sudah berupaya melapor ke Dinas Pertanian BS. Namun laporan yang disampaikan disebut Djohardin tidak direspon sama sekali.

Untuk itu, Djohardin meminta aparat kepolisian segera menyelidiki dugaan permainan proyek replanting tersebut. Jangan sampai program yang menelan anggaran miliaran rupiah tersebut, justru tidak memberikan perubahan maksimal bagi hasil perkebunan warga. “Kalau tidak salah, ada sekitar 600 hektar kebun kelapa sawit yang direplanting. Dari 600 hektar ini, banyak kejanggalan dan keluhan petani,” pungkasnya. (cw2)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *